Sebelum mengunjungi Jamtli, sebenarnya kami lebih dulu singgah ke Frösö, yang letaknya tidak begitu jauh dari Östersund, Jämtland. Fröso adalah sebuah pulau yang lumayan besar yang berada di danau Storsjön. Östersund dan Frösö hanya berjarak oleh sebuah jembatan saja.
Kunjungan ke Frösö, tak lain ingin melihat sebuah museum bernama Sommarhagen, tepatnya sebuah rumah tinggal yang dulunya merupakan tempat kediaman seorang komponis musik terkenal Swedia bernama Wihelm Peterson-Bergers.
Walaupun terbilang terkenal, tapi gue tidak pernah mendengar nama sang komponis sebelumnya. Meskipun demikian, bukan berarti gue apatis dan tidak mau mengunjungi tempat seperti ini. Kalau ada kesempatan, tidak ada salahnya didatangi. Yang namanya tokoh terkenal, pasti rumah kediamannya selalu enak untuk dilihat. Lebih touching dan lebih detail. Apalagi kalau yang dimasuki rumah tokoh idola. Rasanya seperti mimpi. Bisa menginjak rumah dan melihat barang barangnya, bahkan sampai barang yang sangat pribadi sekalipun. Hal ini sudah gue rasakan ketika memasuki rumah Hans Christian Andersen di Odense,Denmark. Rasanya excited banget.
Makanya ketika suami mengajak untuk melihat Sommarhagen, gue langsung mengiyakan saja.
Makanya ketika suami mengajak untuk melihat Sommarhagen, gue langsung mengiyakan saja.
Sebelum sampai ke Sommarhagen, terlebih dahulu kami singgah ke sebuah gereja kecil di Frösö. Gereja kecil yang tampak sederhana dari luar tapi lumayan megah di dalam.
Jika melihat sekitar gereja, pertama sekali yang menarik perhatian adalah menara lonceng di sampingnya. Sebuah menara yang terbuat dari kayu. Unik!
Di dalam menara inilah lonceng gereja disimpan. Setiap relief kayu diukir mirip sisik ular. Bangunan menaranya pun sudah tua. Tapi tetap terlihat wah.
Gereja Frösö berdiri di sebuah kawasan landscape yang sangat menawan. View green nature dan birunya air danau Storsjön, membuatnya mampu menarik perhatian para wisatawan yang datang. Apalagi untuk menikmati ini semua cukup datang dan tidak dipungut biaya. Free!
Bahkan gereja Frösö adalah salah satu gereja favorite yang banyak digunakan para pasangan untuk melakukan wedding ceremony. Mungkin karena bangunan gerejanya yang kecil dan berada di antara view alam yang sangat menawan, memberi kesan romantis.
Di dalam menara inilah lonceng gereja disimpan. Setiap relief kayu diukir mirip sisik ular. Bangunan menaranya pun sudah tua. Tapi tetap terlihat wah.
Menara gereja yang unik |
Bahkan gereja Frösö adalah salah satu gereja favorite yang banyak digunakan para pasangan untuk melakukan wedding ceremony. Mungkin karena bangunan gerejanya yang kecil dan berada di antara view alam yang sangat menawan, memberi kesan romantis.
Selain itu, komponis Peterson pun dimakamkan di halaman sekitar gereja Frösö. Sehingga semakin lengkaplah membawa gereja ini menjadi salah satu tujuan wisata di Frösö.
Ohya, ada satu cerita sejarah yang unik dari gereja Frösö. Dahulu kala, jemaat gereja suka melakukan perjalanan jauh menuju gereja di daerah lain, bahkan sampai ke negara Norwegia. Intinya perjalanan mereka ini seperti melatih kualitas keimanan kristen di masa itu. Berdoa, mengingat kebaikan Tuhan, dan jika sudah sampai di gereja yang dituju, maka mereka akan memberi stempel gereja ke sebuah kertas sebagai tanda sudah mengunjungi gereja tersebut.
Dan tradisi memberi stempel ini sepertinya tetap dijalankan di jaman modern, khususnya bagi para wisatawan, dengan membeli sebuah postcard gereja dan memberi cap stempel yang terdapat di kotak kecil halaman gereja. Artinya wisatawan sudah pernah berkunjung ke gereja Frösö. Kurang lebih gitu deh.
Dan tradisi memberi stempel ini sepertinya tetap dijalankan di jaman modern, khususnya bagi para wisatawan, dengan membeli sebuah postcard gereja dan memberi cap stempel yang terdapat di kotak kecil halaman gereja. Artinya wisatawan sudah pernah berkunjung ke gereja Frösö. Kurang lebih gitu deh.
Memberi stempel ke postcard gereja |
Kotak stempel |
Dari gereja Fröso kami menuju Sommarhagen, kawasan museum/rumah kediaman sang komponis Wihelm Peterson-Bergers. Menuju Sommarhagen layaknya menapaki jalanan di hutan. Banyak jejeran pohon. Tapi adem.
Dan tidak salah dugaan gue, rumahnya menarik. Rumah kayu berwarna merah kecoklatan. View di sekitar rumah Peterson indah banget. Danau sampai bunga liar warna warni. Gue sukaaaa!!
![]() |
Tidak tahan dengan keindahan di luar, kami memutuskan untuk duduk di bangku kayu halaman, sambil menikmati softdrink dan cake dari cafe kecil di sekitar museum. Dan tentunya plus bonus landscape alam yang memanjakan mata.
Rumah Peterson |
Singkat cerita, setelah membeli tiket, kami pun masuk ke dalam museum. Gue dan suami masing-masing diberi sebuah headset dan alat audio visual. Melalui alat ini, kami bisa mengetahui penjelasan demi penjelasan di setiap sudut rumah komponis. Untuk bahasa bisa dipilih, Swedish dan English. Nanti pegawai museum akan memberi headset sesuai bahasa yang dipakai.
Pengunjung tinggal mengarahkan audio ke titik-titik tertentu yang ada di dalam ruangan. Dan otomatis akan keluar kalimat penjelasannya. Misalnya kamar tidur sang komponis, ruang makan, ruang kerja, ruangan favorite beliau, dan sebagainya deh.
Headset audio |
Ruang utama |
Museum Sommerhagen terdiri dari dua lantai. Lantai dasar memiliki ruang utama dan dapur. Sedangkan lantai dua sepertinya lebih kepada ruangan privacy. Ada ruangan santai, ruangan kerja, dan ruangan kamar. Masing-asing ruangan tertata sangat rapi dan bersih. Bahkan pispot yang biasa digunakan Peterson pun masih ada. Diletakin di bawah tempat tidur.
Telepon antik |
Buku not balok |
Ruangan kamar di lantai dua, ada pispot di bawah tempat tidur. Hihihi |
Ruangan kerja Peterson merupakan ruangan favorit beliau. Ruangan kerja dengan jendela langsung menghadap ke danau. View dari jendela memang sangat bagus. Konon Peterson mengerjakan karya musiknya di ruangan ini sambil sesekali melihat ke luar jendela. Ruangan kerja dengan isi yang lengkap. Mulai dari koleksi buku yang tersusun rapi di lemari, sepasang alat tenis, pena, cangkir kopi, foto beliau bahkan korek apinya pun masih ada.
Peterson sangat menyukai nature, terutama bunga bunga liar yang tumbuh di sekitar Sommarhagen. Akibat kecintaannya terhadap bunga liar, beliau sempat berpesan, tidak boleh ada tanaman bunga lain yang sengaja di tanam atau diletakkan di sekitar Sommarhagen, kecuali bunga liar yang tumbuh alami. Bahkan sang komponis pun menciptakan sebuah karya musiknya yang terkenal berjudul 'bunga di Frösö".
Tak heran jika di sekitar Sommarhagen nihil tanaman bunga. Kecuali bunga bunga liar yang memang tumbuh secara alami.
Biasanya Peterson menempati Sommarhagen di saat musim panas saja, semacam summer house beliaulah. Hal ini dilakukan beliau sejak tahun 1914 sampai dengan tahun 1930. Kemudian pada tahun 1942, beliau pun pindah dan menjadikan Sommarhagen sebagai hunian permanen beliau. Bahkan sampai dia meninggal dunia dan dimakamkan di gereja Frösö.
Alat ini dipakai untuk memanggil pelayan rumah. Kalau Peterson menekan tombol, maka pelayan akan melihat dari kotak kotak kecil itu, posisi Peterson di ruangan mana. |
Koper antik |
Dapur |
Konon Peterson sangat bangga dengan kompor di dapur ini. Beliau terinspirasi dari penulis Selma Lagerlof yang memang lebih dulu memiliki kompor gas seperti ini |
Sommarhagen merupakan tempat wisata terpopuler di saat musim panas di Frösö. Bukan hanya sebagai museum, konon di sekitar tempat ini sering juga dilakukan pertunjukan konser musim panas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar